Makna dari bahasa Bugis MALI SIPARAPPE dan makna Slogan IAIN Parepare MALEBBI WAREKKADANNA MAKKEADE AMPENA
MAKNA DARI BAHASA BUGIS “MALI SIPARAPPE”
Mali’ artinya terbawa arus air, siparappe artinya saling menolong agar tidak
terbawa arus air. Jadi dapat diartikan bahwa mali
siparappe,
adalah tolong menolong dari kesulitan arusnya kehidupan. Tidak ada jalan
kehidupan tanpa rintangan dan persimpangan, itulah perlunya ingat memperingati
ke jalan yang benar. jika semuanya sudah berpadu, menjelmah gotong royong
yang sempurna. Ungkapan yang mencerminkan perpaduan
dari dua dialek bahasa Bugis – Makassar tersebut, merupakan gambaran sikap
batin masyarakat Bulukumba untuk mengemban amanat persatuan di dalam mewujudkan
keselamatan bersama, demi terciptanya tujuan pembangunan lahir dan batin,
material dan spiritual, serta dunia dan akhirat.
Konsep atau
prinsip tersebut juga sejalan dengan Islam. Mengingat konsep yang lahir atas
dasar nilai Islam dan berada didunia Islam. Mengingat agama suku Bugis adalah
agama Islam. Ketika kita melihat lebih jauh, hal yang sama bisa ditemukan dalam
Islam. Bahwa islam sangat menganjurkan umatnya untuk saling tolong-menolong dan
jalan bersama. Adapun ayat yang
berhubungan dengan makna dari mali siparappe itu terdapat dalam Q.S Al-Maidah:2:
وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa". (QS. Al-Maidah : 2)
Dalam bahasa Arab kata تَعَاوَنُ
sama dengan pola Tafaala yang mempunyai makna saling. Adapun taawana yang asal
katanya mempuyai arti menolong, sehingga تَعَاوَنُ
diartikan saling menolong dan kemudian diartikan tolong-menolong. Hal yang sama
dijumpai dalam konsep mali siparappe yang mempunyai makna saling tolong-menolong.
Sumber:
http://www.pedomankarya.co.id/2015/10/mali-siparappe-tallang-sipahua-sikap.html
MALEBBI WAREKKADANNA MAKKEADE AMPENA
Slogan IAIN Parepare Malebbi warekkadanna
makkeade ampena itu bermakna Sopan dalam bertutur, santun dalam bertindak.
Kalimat itu tentu saja menjadi inti dari nilai-nilai keislaman. Ada salah satu
hadist yang mengatakan bahwa “Jika engkau tidak bisa berbicara baik, maka lebih
baik engkau diam.” Akhlak seseorang belum akan nampak jika ia belum mampu
bertutur kata yang baik, tidak cukup hnya dengan baik namun juga ia harus
sopan. Tidaklah ada artinya ilmu yang tinggi jika tidak mampu menggunakan ilmu
tersebut untuk menjaga akhlak bertutur yang sangat sopan.
Sopan dalam bertutur, bagi saya bermakna, tahu
dan mampu memposisikan bahasa dengan sangat baik dan tepat saat berbicara
dengan orang lain. Jika berbicara dengan orang yang lebih tua maka tuturnya
harus penuh penghormatan, sebaliknya jika bertutur dengan orang yang lebih
kecil maka tuturnya harus penuh wejangan dan perhatian, kasih sayang, dan doa.
Santun dalam bertindak. Itu penting. Islam
sendiri mengajarkan bahwa akhlak (adab) lebih tinggi derajatnya dibandingkan
dengan ilmu. Seseorang yang berilmu namun tidak punya adab/akhlak yang baik,
maka ilmunya baru di kulitnya saja. Artinya ia belum mampu memahami ilmunya
dengan mendalam dan penuh kebijaksanaan.
Sumber:
https://www.ilham.pw/belajar-bertutur-dan-bertindak-di-iain-parepare/

Komentar
Posting Komentar